NEGERI ISLAM YANG TELAH HILANG ITU BERNAMA TURKISTAN
“DULU MEREKA TUKANG
SAPU, SEKARANG KAMI YANG MEREKA SAPU”
(Pelajaran Untuk Indonesia)
(Pelajaran Untuk Indonesia)
Oleh : Neno Warisman
Bus terakhir mulai
berjalan membawa para mahasiswa menuju kampus. Aku duduk santai di kursi paling
depan, memangku sebuah ransel coklat kesayangan. Tetiba saja aku merasa ada
yang kurang, ooh aku sadar ternyata aku lupa membawa tugas kampus yang sudah ku
tulis tadi malam hingga jam dua subuh. Aku segera meminta supir untuk
memberhentikan bus dan membuka pintu. Aku turun lalu kembali menuju asrama.
Setelah mengambil tugas, aku langsung turun mencari tumpangan.
Aku berdiri di depan asrama berharap ada yang berbaik hati memberikan tumpangan gratis ke kampus. Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebuah mobil yang aku tak ingat apa mereknya, yang ku tahu mobil itu masih baru dan berbentuk mirip seperti Honda CRV, berhenti di hadapanku.
Aku berdiri di depan asrama berharap ada yang berbaik hati memberikan tumpangan gratis ke kampus. Alhamdulillah Allah kabulkan. Sebuah mobil yang aku tak ingat apa mereknya, yang ku tahu mobil itu masih baru dan berbentuk mirip seperti Honda CRV, berhenti di hadapanku.
“Mau kemana? Ayo
ikut.” Ajaknya ramah, dengan Bahasa Arab.
“Mau ke Jamiah?.” Tanya ku balik.
“Iya, ayo! Naik cepat.”
Aku langsung naik. Aku duduk disisi kanannya. Dia mulai menginjak pedal, lalu mobil pun melaju.
“Apa kabar akhi? Sehat?” Tanya pria berwajah Turki itu.
“Alhamdulillah sehat. Anta apa kabar?”
“Sehat alhamdulillah, oya dari Indonesia atau Malaysia?”.
“Mau ke Jamiah?.” Tanya ku balik.
“Iya, ayo! Naik cepat.”
Aku langsung naik. Aku duduk disisi kanannya. Dia mulai menginjak pedal, lalu mobil pun melaju.
“Apa kabar akhi? Sehat?” Tanya pria berwajah Turki itu.
“Alhamdulillah sehat. Anta apa kabar?”
“Sehat alhamdulillah, oya dari Indonesia atau Malaysia?”.
Mobil mulai memasuki
jalan raya. Kaca mobil sedikit terbuka. Angin musim dingin masuk menyentuh
wajah. Hari ini tidak terlalu dingin, sekitar 20°C. Sepertinya musim dingin
sudah hampir selesai.
“Dari Indonesia. Anta
dari mana?”
“Ana dari Turkistan, tau Turkistan? Turkistan itu dibawah Ch*na.” Jelasnya.
“Ooh iya. Masih Asia berarti ya. Gimana kehidupan di Turkistan?” Tanyaku.
“Akhi, kehidupan kami jadi begitu porak-poranda semenjak Ch**a masuk ke negara kami. Sekarang saja passport ana tertulis Ch**a.”
“Apa?? Kok bisa? Bukannya Turkistan negara sendiri?? Kok bisa pasportnya C*in*?” Tanyaku heran. Dia menarik nafas panjang seakan ada beban berat yang dia pikul.
“Ana sudau 9 tahun tidak pulang ke Turkistan.” Keluhnya
“Loh?? Kok bisa??”
“Begini akhi, sekitar 60 tahun yang lalu, mereka orang-orang Ch*na datang baik-baik ke negara kami, bekerja, melancong, dll.
“Ana dari Turkistan, tau Turkistan? Turkistan itu dibawah Ch*na.” Jelasnya.
“Ooh iya. Masih Asia berarti ya. Gimana kehidupan di Turkistan?” Tanyaku.
“Akhi, kehidupan kami jadi begitu porak-poranda semenjak Ch**a masuk ke negara kami. Sekarang saja passport ana tertulis Ch**a.”
“Apa?? Kok bisa? Bukannya Turkistan negara sendiri?? Kok bisa pasportnya C*in*?” Tanyaku heran. Dia menarik nafas panjang seakan ada beban berat yang dia pikul.
“Ana sudau 9 tahun tidak pulang ke Turkistan.” Keluhnya
“Loh?? Kok bisa??”
“Begini akhi, sekitar 60 tahun yang lalu, mereka orang-orang Ch*na datang baik-baik ke negara kami, bekerja, melancong, dll.
Dengan berjalannya
waktu, pemerintahan kami lalai dan menganggap keberadaan mereka biasa saja.
Padahal pergerakan mereka masif, diam tapi pasti, targetnya panjang. Lalu
jumlah mereka semakin banyak, banyak yang sudah mengambil warga negara
Turkistan. Pemerintahan kami tetap tidak sadar.
Dan akhirnya mereka
(Ch*na) melakukan kudeta. Presiden kami mereka bunuh. Pemerintahan jatuh ke
tangan mereka. Pada saat kudeta itu, ratusan ribu pribumi pindah ke bermacam
negara lain. Karena kekejaman kekuasaan Ch*na. Dulu MEREKA HANYALAH TUKANG
SAPU, SEKARANG KAMI YANG MEREKA SAPU.” Jelasnya panjang.
“Lalu bagaimana
kehidupan disana?” Tanyaku balik.
“Disana semuanya serba ketat akhi. Kenapa ana sudah 9 tahun tidak balik ke Turkistan?! Karena mereka melarang siapapun pergi belajar ke negara Islam. Ketika pembuatan pasport mereka mensyaratkan tidak boleh pergi ke Negara Islam, seperti Saudi dan Turki. Akhirnya ana bilang bahwa ana mau kuliah ke Jepang, dari Jepang ana ke Saudi.
“Disana semuanya serba ketat akhi. Kenapa ana sudah 9 tahun tidak balik ke Turkistan?! Karena mereka melarang siapapun pergi belajar ke negara Islam. Ketika pembuatan pasport mereka mensyaratkan tidak boleh pergi ke Negara Islam, seperti Saudi dan Turki. Akhirnya ana bilang bahwa ana mau kuliah ke Jepang, dari Jepang ana ke Saudi.
Mereka berikan izin.
Nah, jika kembali ke Turkistan, lalu mereka lihat di passport tertulis negara
Islam. Ana akan dipenjara kurang lebih 10 tahun. Dan di Turkistan sekarang ini,
setiap hari orang-orang Ch*na berdatangan ke Turkistan, ribuan orang. Mereka
diberikan tempat tinggal, diberi pekerjaan dan fasilitas. Sedangkan orang orang
pribumi, dikekang bahkan diusir.” Terangnya dengan raut muka yang begitu sedih.
Mobil kami masih
melaju di jalan raya, dengan kecepatan 90-100 km/jam. Sudah setengah jarak yang
kami lewati untuk sampai ke kampus.
“Jadi gimana kehidupan muslim disana?” Tanyaku penasaran.
“Sholat dilarang, azan dilarang. Jilbab kalau warna hitam akan dirobek ditempat. Jenggot dilarang. Setiap beberapa meter ada pemeriksaan. Handphone diperiksa, jika ada tulisan Allah atau ayat Quran maka bisa ditangkap dan dipenjara. Tidak boleh mengucapkan kata jihad. Kalau bertamu harus melapor dulu. Kalau tidak melapor tuan rumah bisa dipenjara 10 tahun. Beli pisau agak besar dilarang.” Sesalnya. Sepertinya banyak hal yang susah dia ungkapkan. “Selama 9 tahun kalau liburan ana pergi ke turki, istri orang turki.” Lanjutnya.
“Jadi gimana kehidupan muslim disana?” Tanyaku penasaran.
“Sholat dilarang, azan dilarang. Jilbab kalau warna hitam akan dirobek ditempat. Jenggot dilarang. Setiap beberapa meter ada pemeriksaan. Handphone diperiksa, jika ada tulisan Allah atau ayat Quran maka bisa ditangkap dan dipenjara. Tidak boleh mengucapkan kata jihad. Kalau bertamu harus melapor dulu. Kalau tidak melapor tuan rumah bisa dipenjara 10 tahun. Beli pisau agak besar dilarang.” Sesalnya. Sepertinya banyak hal yang susah dia ungkapkan. “Selama 9 tahun kalau liburan ana pergi ke turki, istri orang turki.” Lanjutnya.
Aku bisa bayangkan
bagaiman kehidupan mereka. Berat, terkekang, terjajah.
“Ya Allah! Jaga negaraku tercinta. Jaga Indonesia. Dan biladal muslimin.” Doaku dalam hati.
“Sekarang di Indonesia, mereka (Ch*n*), semakin banyak saat ini. Masuk di perekonomian. Bahkan sudah masuk pemerintahan.” Curhatku, aku mulai khawatir dengan keadaan negaraku saat ini. Mobil kami sudah hampir tiba di kampus.
“Ya Allah! Jaga negaraku tercinta. Jaga Indonesia. Dan biladal muslimin.” Doaku dalam hati.
“Sekarang di Indonesia, mereka (Ch*n*), semakin banyak saat ini. Masuk di perekonomian. Bahkan sudah masuk pemerintahan.” Curhatku, aku mulai khawatir dengan keadaan negaraku saat ini. Mobil kami sudah hampir tiba di kampus.
“Wah.. akhi! Jangan
sampai kalian tertidur atau lalai sedikitpun. Jangan sampai pemerintah kalian
menganggap enteng hal ini. Keberadaan mereka merusak sekali. Mereka seperti tak
punya keprimanusiaan. Egois.” Tegasnya. Mobil kami tiba di kampus. Dan akhirnya
aku mengucapkan terima kasih atas tumpangannya. Sebelum turun dia bertanya.
“Akhi! Mau jadi orang
kaya?” Senyum merekah di wajahnya.
“Semua kita mau kaya.” Jawabku
“Kalau begitu, jual kucing-kucing yang ada di negaramu ke Turkistan. Sebab kucing kucing disana harganya sangat mahal. Karena jumlahnya sudah sangat sangat sedikit. Sudah habis dimakan orang Ch*na (non muslim tentunya).”
“Semua kita mau kaya.” Jawabku
“Kalau begitu, jual kucing-kucing yang ada di negaramu ke Turkistan. Sebab kucing kucing disana harganya sangat mahal. Karena jumlahnya sudah sangat sangat sedikit. Sudah habis dimakan orang Ch*na (non muslim tentunya).”
Semoga Allah jaga
tanah air tercinta. Aamiin ya robbal’alamin.
EmoticonEmoticon